Merupakanberkas yang disusun berdasarkan KMA Nomor 183 tahun 2019 dan diselaraskan terhadap kisi - kisi PAT Kurikulum 2013. Bapak/ibu guru tenaga madrasah bisa menggunakannya untuk menambah model soal dalam menyusun lembar ujian Soal PAT Akidah Akhlak Kelas 4 MI dan bagi siswa bisa menggunakannya sebagai referensi pembelajaran.
ContohAkhlakul Mahmudah Kepada Sesama Manusia yang Lainnya. Memuliakan tamu yang datang ke kediaman kita. Memuliakan tetangga sekitar rumah kita. Selasa rendah hati di depan orang lain. Senantiasa berprasangka baik kepada orang lain. Saling tolong menolong di dalam kebaiakan. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
A Pengertian Akhlak Pribadi. Yang dimaksud dengan akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya atau ruhani. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita, dan jangan pernah memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan jiwa.
A Pengertian Perilaku Terpuji. Perilaku terpuji adalah segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik sesuai ajaran Islam. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka hal itu tetap tidak baik. Sebailiknya, walaupun manusia menilai kurang baik, apabila Islammeyatakan baik, maka hal itu tetap baik.
IniJawabannya. Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk taat kepadaNya, kepada Rasulullah, dan kepada Ulil Amri atau pemimpin di antara mereka. Ulama tafsir, Muhammad Quraish Shihab menerangkan, ketaatan terhadap Ulil Amri sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT
AkhlakTerhadap Pemimpin. 22-07-2022; Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa, 4: 59)
Akhlakterhadap Allah merupakan sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai kholiq. Ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Karena Al-Qur’anpun telah menegaskan bahwa tawakal adalah akhlak semua Rasulullah, sejak Nuh pemuka para rasul hingga
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224). Akan tetapi, banyak orang tidak tahu ilmu yang
AkhlakTerhadap Allah swt. Dan Rasul. Berdasarkan Q Al-Hujurat ayat 1-a) Ayat 1: jangan mendahului Allah dan Rasulnya dalam segala hal Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Adapunakhlak manusia terhadap alam yang wajib dilaksanakan adalah sebagai berikut. 1. Memerhatikan dan merenungkan penciptaan alam. Allah berfirman : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS.
MNzx. Buletin At-Tauhid edisi 41 Tahun XI Suatu hari, ibunda Aisyah radhiyallahu’anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Wahai Rasulullah! Ibnu Jud’an, dahulu di zaman jahiliyah, adalah seorang yang senantiasa menyambung tali silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah itu semua bermanfaat baginya kelak di akhirat? Nabi shallallahualaihi wasallam menjawab, “Hal itu tidak bermanfaat baginya karena dia tidak pernah sedikit pun mengucapkan, “Wahai Rabb-ku, ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat kelak.” HR Muslim. Hadits ini menceritakan tentang Ibnu Jud’an, yaitu seseorang dari kaum jahiliyah yang terkenal suka membantu orang yang lemah dan suka menyambung silaturrahim. Namun Rasulullah mengabarkan bahwa kebaikannya kepada manusia itu tidak akan bermafaat bagi dirinya kelak di hari akhir. Hal tersebut karena ia belum mengatakan “Wahai Rabb-ku, ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat kelak”. Maksudnya ia belum beriman kepada Allah dan juga hari kebangkitan yang ia akan dihisab dan diberi pembalasan atas apa yang telah dilakukannya. Dan orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan maka ia tergolong sebagai orang kafir. Dan orang kafir tidak akan Allah terima amalannya. Adapun orang kafir yang luhur akhlaknya di dunia, Allah memberikan balasan atas amal baiknya hanya di dunia saja, yaitu berupa kesehatan, harta yang melimpah dan keturunan yang banyak. Adapun di akhirat ia akan mendapatkan balasan dan kedudukan yang sama dengan orang-orang kafir lainnya. Hakikat akhlak mulia Lalu sebenarnya apakah akhlak itu? Bagaiamana bisa semua kebaikan yang dia lakukan kepada sesama manusia tidak memiliki arti dan tidak bermanfaat sama sekali baginya di hari kiamat kelak? Padahal Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda “Kebajikan itu keluhuran akhlak” HR. Muslim. Untuk menjawab hal tersebut, marilah kita lihat perkataan Ibnu Rajab Al Hanbali mengenai hadits di atas “Diantara makna al birr kebajikan adalah mengerjakan seluruh ketaatan, baik secara lahir maupun batin. Makna seperti ini tertuang dalam firman Allah Ta’ala artinya “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” QS. Al Baqarah 177. Dari penjelasan Ibnu Rajab di atas, dengan dalil ayat 177 surat Al Baqarah, kita dapat pahami bahwa kebaikan yang paling utama yaitu menjalankan apa yang Allah perintahkan kepada kita dalam wahyu yang diturunkan-Nya melalui Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Barulah setelah itu kita menjalankan akhlak kepada sesama makhluk. Oleh karena itu, akhlak kepada Allah Ta’ala berupa ketaatan adalah dasar dari diterimanya segala amalan baik kepada sesama makhluk di dunia, seperti memberi harta yang dicintai kepada kerabat, anak, istri, anak-anak yatim, orang miskin, dan musafir, serta kebaikan-kebaikan lainnya yang disebutkan dalam ayat tadi. Jika sesuatu yang menjadi dasarnya tidak dipenuhi, maka bagaimana cabang-cabangnya bisa terpenuhi dengan sempurna? Yang menjadi dasar adalah keimanan. Jika dasarnya tersebut sudah ada, maka amalan kebaikan yang kita lakukan dapat bermanfaat dan berbuah pahala. Sebagaimana seseorang yang masuk kuliah. Jika status sebagai mahasiswa saja tidak dimiliki karena tidak ikut seleksi untuk menjadi mahasiswa, bagaimana ia bisa mendapat nilai dan ijazah kuliahnya tersebut? Marilah bersama-sama kita renungkan! Karena sesunguhnya kesempurnaan akhlak mulia adalah beradab kepada Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Yaitu dengan mengetahui hak Rabb-nya dan bersegera memenuhi hak Rabb-nya dari perkara yang diwajibkan atasnya serta dari sunnah yang dimudahkan atasnya. Sehingga seorang hamba dapat mencapai derajat yang tinggi di hadapan Allah Ta’ala. Berakhlak mulia kepada Rasulullah Konsekuensi dari pentingnya adab kita kepada Allah yaitu berupa ketaatan kepada-Nya adalah kita juga mentaati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah dalam ayat-Nya yang mulia artinya “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling dari ketaatan itu, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” QS. An Nisa 80. Oleh karena itu, mentaati Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Sedangkan jika seseorang berpaling, maka tidak ada satupun yang dirugikan kecuali dirinya sendiri. Dan ketaatan kepada Rasul juga termasuk salah satu adab kita sebagai umatnya kepada Rasulullah, sebagaimana banyak disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya artinya “Taatilah Allah, dan taatilah Rasul” QS. An Nisa 59. Diantara perkara lain yang merupakan bentuk akhlak kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam yaitu mencintainya melebihi seluruh makhluk. Sebagaimana hadits dari Anas Radhiyallahu’anhu, beliau berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Tidak akan sempurna keimanan seseorang sampai aku menjadi orang yang lebih ia cintai dari anaknya, orang tuanya, dan semua manusa” HR. Bukhari dan Muslim. Ibnu Taimiyah menjelaskan adapun sebab kita harus lebih mencintai dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wa sallam dibanding siapapun, adalah karena kebaikan yang paling agung yang bisa kita rasakan di dunia saat ini maupun di akhirat nanti tidak akan bisa tergapai oleh kita kecuali dengan sebab Nabi, yaitu dengan cara mengimani dan mengikutinya. Dan juga seseorang tidak terhindar dari adzab dan tidak juga bisa mendapatkan rahmat Allah kecuali dengan perantara beliau dengan cara mengimaninya, mencintainya, membelanya, dan mengikutinya. Dan beliaulah yang menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari adzab dunia dan akhirat. Dan beliaulah yang menjadi perantara untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Maka termasuk nikmat yang paling besar dan paling bermanfaat adalah nikmat keimanan. Dan nikmat tersebut tidak akan bisa kita peroleh kecuali melalui perantara beliau. Oleh karena itu, diutusnya nabi lebih bermanfaat dibanding diri kita sendiri dan harta kita. Maka siapapun yang Allah keluarkan dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang, tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah selain melalui jalan yang beliau ajarkan. Adapun diri seseorang dan keluarganya, tidak memiliki kuasa apapun untuk menyelamatkan diri jika tanpa sebab beliau shallallahu alaihi wa sallam di hadapan Allah Ta’ala Majmu’ Fatawa. Dari pemaparan di atas, kita bisa menarik kesimpulan 1 bahwa Iman adalah syarat diterimanya amal shalih dan kebermanfaatan amal shalih tadi bagi kita di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah Ta’ala artinya “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan“ QS. An Nahl 97. 2 Orang yang musyrik, bagaimana pun amalan baiknya ketika di dunia, tidak akan membuat dia mendapat ampunan di hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman artinya “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” QS. Az Zumar 65. 3 dan juga amalannya itu tidak menambah berat amalan baiknya di hari kiamat, hanya akan mendapatkan balasan di dunia, namun tidak di akhirat, 4 bahwa orang yang tidak megimani hari kebangkitan adalah orang yang kafir, karena ia tidak mengimani salah satu dari rukun iman, yang semua umat islam diwajibkan utuk mengimaninya, dan ia juga tidak akan mendapatkan ampunan di hari kiamat kecuali jika ia telah bertaubat ketika masih hidup di dunia. 5 adapun taat kepada Rasul, termasuk bentuk ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, juga merupakan salah satu akhlak yang luhur kepada Allah juga Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, 6 Begitu juga dengan mencintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam , adalah bentuk berakhlak mulia kepada Rasul dan bukti kesempurnaan Iman seseorang. Demikian dari kami, semoga Kita tergolong orang yang paling berakhlak, baik kepada Allah dan Rasul-Nya, maupun kepada sesama makhluk Allah, dan kita tergolong orang yang mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Aamiin Penulis Parangeni Muhammad Lubis Alumni Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta Murojaah Ust. Abu Salman, BIS
Pengertian, macam dan contoh aqidah akhlak kepada Allah dan rasulullah yang harus kita ketahui dan amalkan, karena tanpa akhlak ini kita akan menjadi orang yang durhaka dan akan mendapatkan balasan siksa kelak di akhirat. Akhlak kepada Allah adalah hal utama yang harus menjadi perhatian kaum Muslimin, karena dengan Akhlak ini kita di kategorikan sebagai orang yang mempunyai akhlak mulia, seperti yang telah kami tuliskan dalam pembahasan akhlak mahmudah. Lalu apa sebenarnya pengertian dari akhlak kepada Allah, apa saja macamnya dan contoh penerapan akhlak yang benar kepada Allah, berikut uraiannya. Daftar IsiAkhlak Kepada AllahPengertian Akhlak Kepada AllahMacam Macam Akhlak Kepada AllahPerbuatan Anggota TubuhKeyakinan Hati ImanContoh Aqidah Akhlak Kepada AllahAqidah Yang Lurus dan Tidak Menyekutukan AllahMelaksanakan Sholat dan Ibadah Lainnya Yang WajibIkhlas Melaksanakan Ibadah Karena AllahRidho Dengan Semua Ketentuan AllahMeyakini Dengan Hati Atas Semua Yang Allah KabarkanKesimpulanAkhlak Kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam Kita mungkin hanya berfikir bahwa akhlak hanya sebatas hubungan baik antara kita dengan manusia atau makhluk saja, tapi nyatanya dalam islam lebih dari itu. Dan ternyata akhlak kepada Allah Subhanahu wataala SWT adalah akhlak yang pertama kali harus kita pelajari dan di amalkan. Karena akhlak kepada manusia atau makhluk sebatas hubungan kita dengan makhluk, yang jika kita tidak berakhlak mulia, maka akan berdosa kepada makhluk saja. Tapi kalau tidak berakhlak kepada Allah maka hubungannya adalah dengan zat yang menciptakan kita, zat yang memberikan kita rezeki dan zat yang mengatur semua yang ada di alam ini. Dan yang lebih fatal, tidak berakhlak kepada Allah berpotensi membuat kita murtad dan keluar dari Islam atau kafir, kok bisa?, di bawah akan kami jelaskan penyebabnya. Pengertian Akhlak Kepada Allah Akhlak kepada Allah adalah kita melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi larangannya seperti yang terdapat di dalam Al Quran dan sunnah. Jika kita di perintah oleh atasan kita, maka sebagai orang yang berakhlak terpuji akan melaksanakan perintah tersebut, selama perintah tersebut mampu kita laksanakan dan tidak bertentangan dengan hukum syariat. Dan jika kita tidak melaksanakan perintah tersebut karena kemalasan, maka kita di hukumi sebagai orang yang tidak berakhlak dan mendapatkan dosa karena menolak perintah atasan. Lalu bagaimana dengan berbagai macam perintah dan larangan dari Allah, dan kita enggan untuk menaatinya, tentu kita akan de kategori kan sebagai orang yang berdosa. Dan dosa yang kita lakukan akan mendapatkan balasan sesuai kadar dari dosa tersebut, lalu bagaimana kalau dosanya kesyirikan, maka tentu akan kekal di neraka. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui macam macam adab kepada Allah. Macam Macam Akhlak Kepada Allah Seperti yang kami tuliskan di atas bahwa akhlak kita kepada Allah adalah berupa ketaatan dengan melakukan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Dan macam-macam akhlak kepada Allah ada dua jenis yaitu Akhlak berupa perbuatan anggota tubuh dan akhlak berupa keyakinan hati keimanan. Perbuatan Anggota Tubuh Apa apa yang di perintahkan oleh Allah berupa ibadah badan, seperti sholat, berdoa dan lain lain, juga perintah untuk meninggalkan semua yang di larang-Nya seperti mencuri, memakan apa yang diharamkan-Nya dan lain lain. Termasuk di dalamnya adalah ucapan, karena ucapan bisa bernilai ibadah bisa juga bernilai maksiat atau dosa dan kekufuran. Setiap perintah yang Allah wajibkan kepada manusia berupa ibadah dan kita melaksanakannya maka kita termasuk orang yang dikatakan berakhlak kepada Allah. Keyakinan Hati Iman Sebagaimana nama nama Allah yang baik atau asmaul husna, bahwa Allah maha mengetahui dan maha melihat, maka pengetahuan dan penglihatan Allah meliputi hati hati manusia. Allah akan mengetahui penghianatan hati dan juga keikhlasan hati setiap insan Manusia, maka kita perlu untuk menjaga akhlak kepada Allah dengan menata hati kita agar senantiasa ingat dan ikhlas kepada-Nya. Contoh Aqidah Akhlak Kepada Allah Untuk contoh akan kami tuliskan berdasarkan yang paling penting yang akan menjawab pertanyaan pertama, kenapa bisa tidak berakhlak kepada Allah menyebabkan keluarnya seseorang dari keislaman atau murtad. Aqidah Yang Lurus dan Tidak Menyekutukan Allah Tidak menyekutukan Allah kaitannya dengan aqidah tauhid, rinciannya adalah Meyakini bahwa tidak ada yang patut kita sembah dan ibadahi kecuali ibadah dan sesembahan kepada Allah, yang di kenal dengan tauhid Uluhiyah. Meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang menciptakan dunia ini, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan atau di kenal dengan tauhid rububiyah. Meyakini dan mengimani akan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang di kabarkan-Nya dalam Al Quran maupun hadits sahih, yang di kenal dengan tauhid asma wa sifat. Inilah akhlak utama kepada Allah, yang wajib di lakukan oleh semua Manusia, tanpa akhlak ini maka siapapun orangnya akan masuk ke dalam neraka kekal selama-lamanya. Dan ini pula yang menyebabkan orang kafir akan kekal di neraka, walaupun memiliki akhlak mahmudah kepada manusia, karena pada hakikatnya dia tidak mempunyai aqidah akhlak di hadapan Allah. Begitupun dengan orang yang mengaku Muslim, jika dia sujud kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, maka orang seperti ini aqidah dan akhlaknya rusak dan di hukumi sebagai orang yang murtad. Melaksanakan Sholat dan Ibadah Lainnya Yang Wajib Sholat wajib adalah perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang muslim, setelah kita memiliki tauhid yang lurus dengan tidak menyekutukan-Nya. Dan Ulama juga sudah merinci bagaimana hukum orang islam yang tidak melaksanakan sholat wajib, jika ia membangkang dengan mengatakan tidak wajib maka ia telah kafir setelah beriman. Kalau ia tidak melaksanakan sholat wajib karena malas, maka ia melakukan dosa besar dan rentan terperosok kepada kekafiran. maka salah satu akhlak dan adab kepada Allah adalah dengan melaksanakan sholat wajib tepat waktu berjamaah di masjid bagi laki-laki. Begitu juga dengan ibadah lainnya, seperti puasa, zakat, ibadah haji, intinya kita melaksanakan semua perintah ibadah yang telah di wajibkan menurut syariat. Ikhlas Melaksanakan Ibadah Karena Allah Mungkin pembahasan ini juga terkait dengan contoh melaksanakan ibadah yang Allah wajibkan, tapi sebenarnya sedikit berbeda dan ini juga merupakan salah satu akhlak dan adab kepada Allah yang penting untuk di jelaskan. Setelah kita melaksanakan semua kewajiban ibadah, maka kita tidak hanya berhenti disana, tapi ada hal penting yang sering di lakukan dan ini berakibat fatal, yaitu niat tidak ikhlas kepada Allah. Memang benar manusia tabiatnya adalah suka dengan pujian, tapi Syariat memandu kita untuk tidak menempatkan pujian pada tempat yang salah. Tatkala kita melakukan ibadah, sholat 5 waktu misalnya, maka hati kita selalu dibisiki oleh syetan agar kita mendapatkan pujian dari manusia, dengan harapan kita disebut sebagai orang sholeh. Hal ini sudah melenceng dari tujuan ibadah itu sendiri, yaitu niat ikhlas karena Allah, dan inilah yang di sebut dengan riya, yang akan menggugurkan amalan yang kita lakukan. Ridho Dengan Semua Ketentuan Allah Hal ini berkaitan dengan ibadah hati, karena ridho tidaknya kita terhadap keputusan Allah pertama akan di terima atau di tolak dengan hati kita, lalu anggota tubuh akan bereaksai sesuai dengan keadaan hati kita tersebut. Dan juga ini adalah masalah yang berkaitan dengan qadha dan qodar, sehingga salah satu ciri akhlak kita kepada Allah adalah dengan ridho atau menerima semua yang sudah menjadi ketentuannya, baik itu kita senangi atau kita benci. Misal tatkala kita ingin mendapatkan wanita yang cantik dan shalihah, dan kita sudah melakukan berbagai upaya untuk menikahinya, tapi karena Allah menakdirkan wanita tersebut bukan jodoh kita, maka kita harus berlapang dada melupakannya dan mencari wanita lain. Misal kita tertimpa musibah berupa banjir, maka kita istighfar dan menerima dengan lapang atas apa yang terjadi, karena hakikatnya banjir yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Meyakini Dengan Hati Atas Semua Yang Allah Kabarkan Banyak yang Allah jelaskan terkait apa apa yang tidak kita ketahui, seperti adanya malaikat, adanya jin, hari kiamat dan akhirat, surga dan neraka dan juga cerita bagaimana keadaan manusia kelak di surga atau di neraka. Secara akal, mungkin kita tidak bisa sampai kepada hal tersebut, karena semua memang di luar logika, tapi semua hal yang Allah kabarkan melalui Al Quran dan hadits Nabi, harus kita meyakininya tanpa keraguan. Jika kita ragu satu saja ayat Al Quran maka kita termasuk orang yang tidak mempunyai akhlak kepada sang khalik, sehingga kita di katakan sebagai orang kafir munafik yang akan kekal di neraka. Kesimpulan Akhak kepada Allah adalah hal yang paling penting yang harus kita lakukan pertama kali, karena ini ada kaitannya dengan aqidah kita sebagai Muslim. Semua yang kita lakukan, berupa ibadah atau pun bagusnya akhlak kita di hadapan manusia tidak akan bernilai di sisi-Nya. Inti aqidah akhlak kepada Allah adalah ketaatan kita terhadap apa yang di perintahkan dan di larang oleh-Nya berdasarkan dalil dari Al Quran dan Sunnah Dan ketaatan ini meliputi ketaatan dengan anggota tubuh dan ketaatan dengan hati berupa Aqidah. Contoh ketaatan dengan anggota tubuh adalah, puasa, ibadah haji, zakat, menolong orang, berkata baik, membaca Al Quran dll. Contoh ketaatan dengan hati atau aqidah keimanan adalah, meyakini adanya Allah, meyakini Allah adalah satu satunya yang mampu menghidupkan dan mematikan, yang memberi rezeki, meyakini semua yang terjadi di atas alam ini adalah atas izin Allah dll. Wallahu a’lam. Akhlak Kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam Beberapa Akhlak kepada Rasulullah sallallahu alaihi wassalam yang harus kita lakukan adalah Mengakui bahwa Beliau sallallahu alaihi wassalam adalah utusan Allah. Mengamalkan apa yang di perintahkan dan menjauhi yang di larang nya, karena hakikatnya ini adalah perintah dan larangan dari Allah Azza wa jalla. Meyakini kebenaran apa apa yang di kabarkan nya, terkait kejadian yang telah berlalu maupun yang belum terjadi di masa mendatang. Hanya melakukan ibadah seperti yang di contohkan oleh Beliau sallallahu alaihi wassalam. Tidak melakukan Bid’ah atau mengadakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wassalam. Mencintai dan mengamalkan Sunnahnya. Demikian bahasan kaliini tentang akhlak kepada Allah dan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wassalam, semoga bermanfaat. Wallau a’lam. Baca Juga Hadits Tentang Akhlak